Di Tanah Leluhur yang Terluka, Manusia Tidak Boleh Kehilangan Sesamanya Adonara adalah Kita.

You are currently viewing Di Tanah Leluhur yang Terluka, Manusia Tidak Boleh Kehilangan Sesamanya Adonara adalah Kita.

Penulis : Ketua Umum DPP Forum Pemuda NTT Yohanes H. Ndale

Konflik di Adonara Timur bukan sekadar persoalan batas tanah atau pertikaian antarwarga. Yang sesungguhnya terluka adalah rasa percaya, persaudaraan, dan ingatan bersama sebagai satu keluarga besar dalam tanah leluhur. Bagi masyarakat Adonara, tanah bukan hanya ruang hidup, tetapi bagian dari martabat, sejarah, dan identitas. Karena itu, ketika konflik terjadi, yang dipertaruhkan bukan hanya kepemilikan, melainkan harga diri. Namun ketika kemarahan terus diwariskan, manusia perlahan kehilangan kemampuan melihat sesamanya sebagai saudara.

Yang paling sunyi dari setiap konflik adalah luka batin masyarakat sendiri. Anak-anak tumbuh dengan rasa takut, para ibu hidup dalam kecemasan, dan perlahan curiga menjadi hal yang dianggap biasa. Padahal sebuah masyarakat tidak hancur karena konflik semata, tetapi karena hilangnya kepercayaan satu sama lain. Karena itu, penyelesaian di Adonara Timur tidak cukup hanya dengan pendekatan keamanan. Pemerintah daerah, tokoh adat, dan tokoh agama perlu hadir lebih aktif dan sungguh-sungguh melihat konflik ini sebagai persoalan kemanusiaan bersama. Mereka tidak boleh hanya hadir ketika bentrokan terjadi, tetapi harus menjadi jembatan dialog yang terus membuka ruang damai di tengah masyarakat.

Tokoh adat perlu kembali menghidupkan nilai persaudaraan dan mengingatkan bahwa masyarakat Adonara berasal dari akar leluhur yang sama. Tokoh agama harus berani membawa pesan kasih, pengampunan, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia di tengah ketegangan sosial. Sementara pemerintah harus hadir bukan sekadar menjaga keamanan, tetapi membangun komunikasi yang adil, mendengar semua pihak, dan memfasilitasi rekonsiliasi yang bermartabat.

Sudah saatnya semua pihak duduk bersama mencari jalan keluar yang bijaksana, agar konflik tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab kedamaian tidak lahir dari siapa yang paling kuat, tetapi dari keberanian untuk saling mendengar dan menjaga sesama manusia tetap hidup dalam rasa aman dan damai.

Leluhur tidak mewariskan tanah untuk saling membenci. Tanah diwariskan agar anak cucu tetap hidup bersama dalam martabat dan persaudaraan. Sebab di atas tanah leluhur yang terluka, manusia seharusnya tidak kehilangan sesamanya.