Dari Aspirasi Menjadi Aksi : Forum Pemuda NTT DPW Jateng Jembatani Perlindungan Mahasiswa Asal Flores di Semarang

You are currently viewing Dari Aspirasi Menjadi Aksi : Forum Pemuda NTT DPW Jateng Jembatani Perlindungan Mahasiswa Asal Flores di Semarang

SEMARANG – Gempa berkekuatan 7,7 yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya berdampak pada masyarakat yang berada di wilayah tersebut. Namun, berdampak juga terhadap sejumlah pelajar asal Flores yang sedang menempuh pendidikan diberbagai perguruan tinggi di Kota Semarang Jawa Tengah (Jateng).

Ketika sebagian orang tua mereka masih menghadapi kerusakan rumah, kehilangan sumber penghasilan, maupun kondisi pengungsian, kemampuan untuk mengirimkan biaya hidup dan biaya pendidikan kepada anak-anak mereka di perantauan ikut terganggu.

Situasi inilah yang menjadi perhatian Forum Pemuda NTT Nusa Cendana Wangi DPW JATENG.

Melihat kondisi tersebut, Ketua Forum Pemuda NTT JATENG Nusa Cendana Wangi Semarang, Yulius Gambe, mengambil inisiatif untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa yang terdampak kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui surat yang disampaikan kepada Humas dan Protokol Gubernur Jawa Tengah.

Surat tersebut menyampaikan utama bahwa bencana yang terjadi di Flores tidak sampai menyebabkan pelajar NTT di Semarang kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan karena orang tua mereka tidak lagi mampu mengirimkan biaya kuliah dan biaya hidup.

Aspirasi tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Pada tanggal 7 September 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengunjungi langsung kos mahasiswa asal NTT di cerita Semarang untuk melihat kondisi mereka dan mendengarkan mengenai keadaan keluarga masing-masing di Flores.

Dalam kunjungan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan sejumlah bentuk dukungan, antara lain bantuan sembako selama tiga bulan, bantuan pembayaran uang kos, serta keringanan atau dukungan terhadap biaya UKT bagi mahasiswa terdampak melalui koordinasi dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait.

Pemprov Jawa Tengah juga melakukan pendataan mahasiswa NTT yang terdampak. Data awal yang disampaikan mencapai 172 mahasiswa, sementara jumlah mahasiswa NTT yang berada di Semarang diperkirakan hampir 300 orang.

BENCANA TIDAK BOLEH MEMUTUS MASA DEPAN

Bagi Forum Pemuda NTT Nusa Cendana Wangi, persoalan ini tidak semata-mata mengenai bantuan material.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa anak-anak NTT tetap dapat belajar dan menyelesaikan pendidikan mereka meskipun keluarga di kampung halaman sedang menghadapi bencana.

Bagi keluarga di Flores, mengirim anak untuk kuliah ke luar daerah merupakan sebuah perjuangan besar. Ketika bencana menghantam, rantai ekonomi keluarga dapat terputus. Rumah rusak, pekerjaan terganggu, pendapatan berkurang, pengeluaran meningkat, dan pada akhirnya kiriman kepada anak di perantauan dapat berhenti.

Jika kondisi tersebut tidak segera ditangani, persoalan bencana dapat berkembang menjadi persoalan pendidikan.

Karena itu, membantu mahasiswa terdampak berarti juga menjaga masa depan keluarga dan daerah asal mereka.

SOLIDARITAS JAWA TENGAH UNTUK ANAK-ANAK NTT

Forum Pemuda NTT Nusa Cendana Wangi JATENG menyampaikan apresiasi dan penghormatan kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi beserta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas respons dan kepedulian yang diberikan kepada mahasiswa NTT.

Kehadiran langsung Gubernur di tempat tinggal mahasiswa memberikan pesan penting bahwa mahasiswa NTT yang sedang berada di Jawa Tengah tidak sendirian menghadapi situasi sulit.

Pesan Gubernur kepada mahasiswa NTT, “Kalian di sini anak saya,” menjadi simbol kuat tentang solidaritas kemanusiaan di tengah bencana.

Bagi Forum, solidaritas semacam ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong Indonesia tidak mengenal batas provinsi.

Ketika Flores mengalami bencana, Jawa Tengah ikut merasakan penderitaannya.

PERAN FORUM: MENJADI JEMBATAN ASPIRASI

Forum Pemuda NTT Nusa Cendana Wangi JATENG memandang  sebagai bagian dari masyarakat sipil yang memiliki tanggung jawab untuk mendengar persoalan generasi muda dan menyampaikannya kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk memberikan solusi.

Dalam kasus mahasiswa terdampak gempa Flores di Semarang, Forum berupaya menjalankan fungsi tersebut melalui komunikasi dan penyampaian aspirasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Forum tidak melihat bantuan ini sebagai keberhasilan satu pihak

Sebaliknya, ini adalah hasil kerja bersama antara mahasiswa, organisasi pemuda, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak NTT.

Ketua Forum Pemuda NTT Nusa Cendana Wangi JATENG, Yulius Gambe, menegaskan bahwa perhatian terhadap mahasiswa terdampak tidak boleh berhenti setelah bantuan awal diberikan.

Ke depan, diperlukan pendataan dan pendampingan yang lebih sistematis agar siswa yang keluarganya terdampak bencana dapat terus menjalankan aktivitas akademiknya.

DARI SEMARANG UNTUK FLORES

Peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa penanganan bencana harus melihat korban secara lebih luas.

Korban bencana bukan hanya mereka yang rumahnya roboh.

Korban bencana juga bisa berada ratusan bahkan ribuan kilometer dari lokasi gempa.

Mereka adalah anak-anak yang harus tetap kuliah ketika orang tuanya sedang berjuang bertahan hidup di kampung halaman.

Mereka adalah mahasiswa yang duduk di ruang kuliah sambil memikirkan apakah keluarganya masih memiliki tempat tinggal.

Mereka adalah generasi muda yang tidak boleh kehilangan masa depan hanya karena keluarganya sedang mengalami bencana.

Oleh karena itu, Forum Pemuda NTT Nusa Cendana Wangi JATENG akan terus mendorong kolaborasi dan kepedulian terhadap mahasiswa NTT di tanah rantau.

Gempa boleh mengguncang Flores tetapi jangan sampai gempa memutus masa depan anak-anak Flores.

Forum Pemuda NTT Nusa Cendana Wangi
Bergerak untuk kemanusiaan.
Bersama menjaga generasi NTT.
Dari tanah rantau, ke masa depan Nusa Tenggara Timur.