BAJAWA – Sulitnya akses menuju Desa Heawea, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak menyurutkan langkah Andy Opa Gaul bersama Yayasan Peduli Cinta Indonesia (YPCI) dan Forum Pemuda NTT untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak gempa.
Sabtu (29/8/2026), menjadi hari kedua bagi rombongan dalam menjalankan misi kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak gempa Flores. Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 tersebut, berdasarkan pemutakhiran BMKG, berkekuatan magnitudo 7,7 dengan episentrum di sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, dan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut juga sempat memicu peringatan dini tsunami.
Desa Heawea menjadi salah satu lokasi yang dijangkau rombongan. Untuk mencapai desa tersebut, tim harus melewati medan perbukitan dengan kondisi jalan tanah yang sempit, licin, berlubang, dan terjal. Namun, kondisi medan tidak menghalangi rombongan untuk terus bergerak. Bantuan tetap dibawa hingga ke tengah masyarakat yang membutuhkan.
“Cukup menantang perjuangan kita untuk menembus Desa Heawea. Tapi kami tetap yakin bahwa kita akan sampai di desa tersebut untuk memberikan bantuan bagi warga masyarakat yang ada di Desa Heawea, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada,” kata Ketua Umum Forum Pemuda NTT, Yohanes Hiba Ndale.
Fasilitas Umum dan Rumah Warga Rusak
Setibanya di Desa Heawea, rombongan melihat langsung kondisi sejumlah bangunan yang terdampak geempa. Sebuah kapela atau tempat ibadah mengalami kerusakan parah. Kerusakan juga terjadi pada kantor desa dan gedung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sejumlah rumah warga turut mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda, mulai dari ringan hingga berat. Sebagian warga memilih bertahan di tenda darurat yang didirikan menggunakan terpal karena masih khawatir untuk kembali menempati rumah mereka. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa proses pemulihan pascagempa masih membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak.
63 Paket Sembako Disalurkan
Kedatangan Andy Opa Gaul, YPCI, dan relawan Forum Pemuda NTT mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Heawea.
Sebanyak 63 paket bantuan kebutuhan pokok dibawa langsung ke lokasi menggunakan truk. Bantuan tersebut terdiri atas beras, gula, minyak goreng, serta makanan ringan Opa Cake.
Bantuan diterima langsung oleh Kepala Desa Heawea, Fransiskus K.L. Day, untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat yang terdampak.
Selain menyalurkan bantuan, tim juga melakukan pendataan untuk mengetahui kebutuhan masyarakat yang dinilai paling mendesak dalam masa pemulihan pascabencana.
“Kebutuhan yang paling mendesak dengan situasi gempa seperti ini, yang pertama itu mungkin bahan sembako. Yang kedua mungkin kami di sini membutuhkan tenda-tenda jadi. Karena kami di sini membutuhkan waktu lama untuk bisa pulih kembali,” kata Fransiskus.
Menurut dia, persoalan akses transportasi juga menjadi salah satu tantangan utama bagi masyarakat Desa Heawea.
“Yang paling utama itu adalah akses transportasi, karena memang seperti tadi teman-teman lewat ke sini akses transportasinya sangat sulit. Mungkin ada banyak teman-teman dari luar yang peduli akan Desa Heawea untuk bisa membantu,” ujarnya.
Ribuan Dus Air Mineral Disiapkan
Misi kemanusiaan tersebut tidak berhenti pada penyaluran sembako. Andy Opa Gaul bersama YPCI dan Forum Pemuda NTT juga menyiapkan ribuan dus air mineral untuk masyarakat yang masih bertahan di posko-posko pengungsian.
Air mineral tersebut telah diangkut menggunakan lima kontainer dan akan didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak.
Andy Opa Gaul, pria berusia 71 tahun kelahiran Binjai, Medan, mengatakan dirinya belum membeli tiket untuk kembali ke Bali. Ia memilih tetap berada di Flores hingga seluruh bantuan yang dibawanya tersalurkan.
“Opa masih belum membeli tiket pulang. Itu artinya Opa masih akan tetap di Flores sampai semua paket bantuan tersalurkan. Dan itu semua harus tepat sasaran. Setelah dari sini akan banyak tempat lagi yang Opa kunjungi. Semoga apa yang kami bawa bisa bermanfaat bagi warga,” ungkapnya.
Tak Hanya Logistik, Trauma Healing Disiapkan
Perhatian terhadap korban gempa juga diarahkan pada aspek pemulihan psikologis.
Andy Opa Gaul bersama YPCI dan Forum Pemuda NTT berencana menggelar kegiatan trauma healing pascabencana, khususnya bagi anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.
Program tersebut diharapkan dapat membantu anak-anak dan masyarakat mengurangi kecemasan serta kepanikan setelah mengalami bencana. Selain itu, kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri masyarakat agar secara bertahap dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Bagi para relawan, penyaluran bantuan ke Desa Heawea bukan sekadar mengantarkan kebutuhan pokok. Perjalanan menembus medan sulit menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau tetap mendapatkan perhatian dan bantuan.
Di tengah proses pemulihan Flores pascagempa, solidaritas masyarakat dan berbagai kelompok kemanusiaan menjadi salah satu kekuatan penting untuk membantu warga bangkit dan kembali menata kehidupan mereka. (*R14)
