Pancasila dari Ende: Ketika Indonesia Sedang Mencari Jiwanya Kembali.

You are currently viewing Pancasila dari Ende: Ketika Indonesia Sedang Mencari Jiwanya Kembali.

 

Penulis : Ketua Umum DPP Forum Pemuda NTT Yohanes H. Ndale.

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Tetapi di tengah hiruk pikuk politik, tekanan ekonomi, ketidakpercayaan terhadap hukum, dan perubahan budaya yang semakin cepat, pertanyaan paling mendasar justru muncul kembali: apakah Pancasila masih hidup di dalam jiwa bangsa ini, atau hanya tinggal slogan di podium-podium kekuasaan?

Di sebuah kota kecil bernama Ende, di Pulau Flores, sejarah pernah diam-diam bekerja. Di bawah pohon sukun yang sederhana, Soekarno pernah merenungkan nasib bangsa yang belum lahir. Dari tempat yang jauh dari pusat kekuasaan itu, lahirlah gagasan besar tentang Indonesia: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas agama tertentu, suku tertentu, atau kepentingan golongan tertentu, tetapi di atas nilai kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan gotong royong. Ironisnya, hari ini Indonesia justru sedang diuji oleh hal-hal yang dulu ingin dipersatukan oleh Pancasila.

Dalam politik, demokrasi sering terasa kehilangan nurani. Perdebatan publik berubah menjadi kebencian digital. Kritik dibalas dengan permusuhan. Kekuasaan terkadang lebih sibuk mempertahankan citra dibanding mendengar suara rakyat kecil. Politik bukan lagi ruang memperjuangkan gagasan, tetapi perlahan berubah menjadi arena mempertahankan kepentingan. Pancasila sesungguhnya tidak pernah mengajarkan politik tanpa etika. Sila keempat berbicara tentang hikmat kebijaksanaan, bukan sekadar perebutan suara. Demokrasi Indonesia seharusnya lahir dari kedewasaan moral, bukan hanya kemenangan elektoral.

Di bidang ekonomi, pertumbuhan sering diumumkan dengan angka-angka besar, tetapi rakyat kecil masih bergulat dengan harga pangan, lapangan kerja, dan ketimpangan sosial. Di banyak daerah termasuk Nusa Tenggara Timur, masyarakat masih hidup berdampingan dengan kemiskinan struktural, krisis air, pendidikan yang terbatas, dan migrasi tenaga kerja yang menyakitkan. Pertanyaannya sederhana, apakah pembangunan benar-benar sudah memanusiakan manusia?

Pancasila tidak pernah berbicara tentang kemajuan yang hanya dinikmati segelintir orang. Keadilan sosial bukan sekadar slogan birokrasi, tetapi janji moral negara kepada rakyatnya. Dalam bidang hukum, masyarakat semakin sering menyaksikan ketimpangan perlakuan. Hukum terkadang tampak tajam kepada yang lemah dan tumpul kepada yang kuat. Ketika kepercayaan publik mulai retak, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya institusi hukum, tetapi masa depan kepercayaan terhadap negara itu sendiri..Padahal Indonesia dibangun bukan hanya dengan konstitusi, tetapi juga dengan rasa keadilan.

Sementara itu dalam budaya, kita hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Teknologi mendekatkan manusia secara digital tetapi kadang menjauhkan secara emosional. Generasi muda Indonesia menghadapi banjir informasi, tetapi sering kekurangan ruang refleksi. Budaya lokal perlahan tergeser oleh budaya instan. Nilai gotong royong mulai kalah dengan budaya individualisme.

Di sinilah Ende menjadi penting untuk diingat. Ende bukan hanya lokasi sejarah. Ende adalah simbol perenungan. Simbol bahwa bangsa besar lahir bukan dari keramaian kekuasaan, tetapi dari keberanian untuk berpikir tentang manusia dan kemanusiaan. Indonesia hari ini mungkin tidak kekurangan pembangunan fisik. Tetapi bangsa ini sedang membutuhkan pembangunan jiwa. Kita membutuhkan keberanian untuk kembali membaca Pancasila bukan sebagai hafalan sekolah, melainkan sebagai cermin moral kehidupan berbangsa.
Pancasila harus hidup di meja makan rakyat kecil. Hidup di ruang sidang pengadilan. Hidup di sekolah-sekolah. Hidup di media sosial. Hidup dalam cara pejabat memperlakukan rakyat. Dan hidup dalam cara masyarakat memperlakukan sesamanya.Sebab jika Pancasila hanya dirayakan setiap 1 Juni tanpa dihidupi setiap hari, maka Indonesia perlahan akan kehilangan arah moralnya sendiri.
Mungkin karena itu sejarah memilih Ende — sebuah kota kecil di Timur Indonesia — untuk mengingatkan bangsa ini bahwa cahaya besar kadang lahir dari tempat yang sunyi. Dan dari Ende pula, Indonesia seharusnya belajar kembali tentang arti menjadi bangsa yang manusiawi.