Bagi – bagi Biskuit Kelor Kepada Anak – Anak, La Moringa Dukung Penurunan Stanting di NTT

You are currently viewing Bagi – bagi Biskuit Kelor Kepada Anak – Anak, La Moringa Dukung Penurunan Stanting di NTT

KUPANG — La Moringa mendukung upaya penurunan stunting di NTT dan Kota Kupang melalui gerakan berbagi biskuit kelor, produk Andalan yang telah merambah ke kota-kota besar Eropa dan Asia.

La Moringa menunjukkan kepedulian itu melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Komitmen ini diwujudkan oleh La Moringa melalui program sosial bertajuk LaMoringa Berbagi.

Bekerja sama dengan Puskesmas Oesapa, kegiatan itu menyasar ibu hamil dan anak-anak di wilayah cakupan Posyandu.

Dalam kegiatan bantuan ini, La Moringa memberikan nyata berupa biskuit sehat berbahan dasar daun kelor, yang kaya akan nutrisi penting. Tak hanya itu, edukasi gizi juga diberikan kepada para ibu hamil dan keluarga mengenai pentingnya pemanfaatan bahan pangan lokal untuk menunjang kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak.

Pendiri La Moringa, dr. Andree Hartanto, yang juga merupakan praktisi dokter kandungan, menegaskan persoalan stunting harus ditangani sejak fase paling awal kehidupan, yakni 1000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

“Fase 1000 hari pertama kehidupan adalah periode emas yang sangat menentukan. Di fase ini, dibutuhkan penanganan yang cepat, tepat, dan komprehensif untuk mencegah stunting. Sebagai dokter kandungan, saya melihat langsung bagaimana kualitas nutrisi ibu dan anak sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang jangka panjang,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendekatan La Moringa tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif melalui edukasi dan pemanfaatan potensi lokal. Salah satunya adalah daun kelor yang memiliki kandungan protein, vitamin, serta asam amino esensial yang sangat tinggi.

Menariknya, dalam implementasi di lapangan, anak-anak menunjukkan respon yang sangat positif terhadap biskuit berbahan dasar daun kelor. Produk ini tidak hanya bergizi, tetapi juga disukai dari segi rasa, sehingga dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) atau program intervensi gizi lainnya.

Program ini menjadi bagian dari kontribusi berkelanjutan La Moringa dalam mendukung program pemerintah menurunkan angka stunting, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Selama ini, lanjut dr Andree, La Moringa telah terlibat dalam berbagai inisiatif sosial dan kesehatan masyarakat sebagai bentuk komitmen terhadap pembangunan generasi masa depan yang lebih sehat.

Melalui gerakan LaMoringa Berbagi, La Moringa menegaskan solusi terhadap stunting tidak hanya datang dari intervensi medis, tetapi juga dari edukasi, pemberdayaan, dan pemanfaatan potensi lokal secara optimal.

“Dari ujung kota hingga pelosok daerah, semangat perubahan itu terus hidup membawa harapan bagi generasi yang lebih kuat dan bebas stunting,” tandasnya.

Di akhir kegiatan, La Moringa bersama seluruh pihak yang terlibat berharap agar program positif ini dapat mencakup seluruh kecamatan serta fasilitas MBG.

dr Andree berharap, biskuit berbahan dasar daun kelor ini dapat menjadi menu snack penutup yang sehat dan bergizi bagi anak-anak, sekaligus menjadi bagian dari solusi berkelanjutan dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.

Kadis Kesehatan Kota Kupang, Retnowati mengapresiasi upaya La Moringa dalam upaya penurunan stinting.

“Ini merupakan kepedulian nyata La Moringa dalam mendukung pemerintah mengatasi stunting. Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih beliau.

Retnowati berharap, gerakan seperti ini dapat meregangkan ke Puskesmas lainnnya. (*R14)