You are currently viewing Pekerjaan Jaringan Irigasi di Kabupaten Rote Ndao Banyak Manfaat Bagi Petani

Pekerjaan Jaringan Irigasi di Kabupaten Rote Ndao Banyak Manfaat Bagi Petani

KUPANG – Pekerjaan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi utama kewenangan pemerintah daerah pada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II di Kabupaten Rote Ndao yang dikerjakan PT Adhi Karya (Persero) Tbk sangat bermanfaat bagi petani dengan pasokan air yang stabil untuk persawahan di lokasi tersebut.

Pekerjaan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi ini adalah proyek program Instruksi Presiden (Inpres) tahun 2025 Kementerian Pekerjaan Umum Direktoral Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Satker NVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air NT II Kegiatan Irigasi dan Rawa I.

Kabupaten Rote Ndao sendiri mendapat tiga paket, yaitu di daerah irigasi Woldale (paket 1) serta daerah irigasi Netenaen dan daerah irigasi Bebalin (paket 2).

Sementara itu, untuk Provinsi NTT, proyek tersebut dilaksanakan di 66 daerah irigasi (DI) yang dibagi dalam paket 1 sebanyak 32 DI. Sementara paket 2 sebanyak 34 DI. Pekerjaan DI paket 1 dan 2 tersebar di 15 kabupaten. Yakni, Kabupaten Alor, Belu, Ende, Flores Timur, Kupang, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Rote Ndao, Sikka, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Timur dan Kabupaten TTS.

Proyek rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi utama kewenangan pemerintah daerah pada BBWS Nusa Tenggara II paket 1, dengan 32 daerah irigasi kewenangan pemerintah daerah yang tersebar di 11 kabupaten dengan nilai proyek sebesar Rp 40.209.714.000.

Sedangkan Proyek rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi utama kewenangan pemerintah daerah pada BBWS Nusa Tenggara II paket 2, dengan 34 daerah irigasi kewenangan pemerintah daerah yang tersebar di 15 kabupaten dengan nilai proyek sebesar Rp 102.145.000.000.

Nikson Musu, salah satu pesawah yang ditemui di lokasi proyek Desa Serubeba Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao, Sabtu 13 Desember 2025 kepada wartawan mengaku masyarakat sangat bersyukur karena pembangunan saluran irigasi sangat banyak manfaatnya. Karena, selain musim hujan, musim panas petani bisa mengerjakan sawah.

“Jadi satu tahun bisa kerja dua kali. Airnya ambil dari embung di atas sana, embung Noli yang dibangun pemerintah. Selama ini tanam satu tahun satu kali. Dengan adanya saluran ini semoga bisa tanam dua kali dalam satu tahun,” ungkap Nikson.

“Kalau di lokasi ini hanya tanam padi saja. Di sini kalau satu hektare bisa dapat 700-an blek. Kalau ton tidak tau juga. Kami hitungannya blek. Satu blek kalau mol dapat tujuh kilo beras. Itu satu kali musim tanam. Kalau musim panas juga tanam berarti hasilnya sudah lebih lagi,” tambah Nikson.

Sementara, Jakob Foes, Kepala Desa Netenaen Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao yang ditemui wartawan di lokasi persawahan Laimada Desa Hundihuk Kecamatan Rote Barat Laut, Sabtu (13/12) menjelaskan, proyek irigasi yang sementara dikerjakan di lokasi Lekofeo yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya, punya dampak yang besar terhadap petani di lokasi ini.

“Jadi dengan adanya proyek irigasi ini, bisa menambah penghasilan dari petani yang ada di lokasi ini,” jelas Jakob.

Jakob mengaku penanaman padi di lokasi tersebut tergantung curah hujan. Tapi dari sepengetahuannya, tahun-tahun terakhir bisa dikerjakan dua kali dalam setahun.

“Saya sebagai kepala desa di tempat ini punya harapan, dengan adanya proyek ini bisa menambah penghasilan. Karena apa, dari pengamatan saya, sebelum adanya saluran permanen yang dibangun ini, masyarakat membuat saluran dengan menggali sendiri irigasi untuk mengaliri air ke sawah. Oleh karena itu, dengan adanya proyek irigasi ini bisa membantu masyarakat untuk ke depannya pekerjaan mereka semakin ringan dan juga penghasilan mereka semakin bertambah,” ujar Jakob.

Ia mengaku, proyek tersebut baru mulai dikerjakan pada akhir November. “Kalau di sini, kurang lebih ada ada 53 hektare sawah yang terhempang di areal ini yaitu di lokasi Lekofeo dan lokasi Laimadak. Semakin ke barat ada tergabung dengan kelompok tani dari Desa Hundihuk. Tapi kalau khusus Desa Netenaen sendiri ada lima kelompok tani yang mengolah lahan ini. Dengan jumlah anggota 100 orang lebih. Karena satu kelompok ada yang 20-an orang, ada yang 30-an orang,” urainya.

Jakob kembali menyampaikan harapan, dengan pembangunan saluran irigasi ini bisa menambah penghasilan petani yang ada di wilayah persawahan tersebut.

Sedangkan, Yuksan Soden, inspektor konsultan teknis PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) yang ditemui di lokasi persawahan Laimada Desa Hundihuk Kecamatan Rote Barat Laut, Sabtu 13 Desember 2025 mengaku, progres pekerjaan baru mencapai 30-an persen. Total panjang saluran eksisting yang dikerjakan 1.739 meter untuk luasan daerah irigasi 53 hektare.

“Ini ada di dua desa. Desa Netenaen dan Desa Hundihuk. Untuk masyarakat ini baik, karena menurut masyarakat selama ini belum ada sentuhan pemerintah ke sini sehingga dengan adanya Inpres irigasi dari presiden, dari Kementerian PU, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, ini 53 hektare ke depan tidak ada kendala lagi karena salurannya sudah terjawab. Pekerjaan ini untuk saluran primer dan saluran sekunder. Kalau tersier itu tugas dari pemerintah daerah,” ujar Yuksan.

Dijelaskan, sumber air untuk persawahan tersebut ada dua, yang pertama dari bendung Leko yang berada di wilayah Desa Netenaen dan yang kedua dari embung Fulakmoan yang ada di wilayah Desa Hundihuk.

“Dulu dengan saluran sederhana, saluran tanah, masyarakat hanya bisa kerja satu kali dalam setahun. Dengan adanya saluran teknis, penggunaan air semakin hemat, diharapkan untuk wilayah Desa Netenaen bisa dua kali kerja. Kalau yang diambil dari embung satu tahun kerja satu kali,” jelasnya.

Ditegaskan, pembangunan saluran irigasi tersebut sangat menjawab kebutuhan masyarakat petani di dua desa.

“Kendala saat ini sudah masuk musim hujan dan masyarakat sudah masuk dalam musim tanam. Kendala pembangunan ini adalah akses masuk material. Sehingga harapan kita dari konsultan pengawas, teman-teman PT Adhi Karya sebagai kontraktor pelaksana bisa menambah pekerja, menambah peralatan dan jam kerja sehingga bisa mengejar progres yang ada bisa selesai tepat waktu sesuai dengan kontrak yang ada. Tugas kita mengawal kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan data kontrak,” tegasnya.

Perwakilan PT Adhi Karya, Donny Ratu yang ditemui di lokasi pekerjaan paket 2, Bebalin, Minggu (14/12) mengaku, pendropingan material saat hujan sangat sulit. Tapi kalau musim panas mudah karena pihaknya sudah membuka jalan.

“Kalau masih lumpur kita usahakan dengan gunakan mobil 4×4 dan traktor untuk angkut material. Masih panas kita masukan material dengan truk. Material semua sudah ada di lapangan, bisa lihat sendiri sudah menumpuk di pinggir galian,” katanya.

Ia mengaku, masyarakat sangat butuh saluran, namun yang paling utama adalah perbaikan bendungan yang rusak.

Diakui, saat ini pekerjaan baru pada pendropingan material. Hal ini karena pengaruh cuaca yang sudah masuk musim hujan. Walau sudah memasuki musim hujan, Donny mengaku, pekerjaan tetap berjalan karena material sudah ada di lapangan.

“Pekerjaan tetap jalan terus. Masyarakat juga sudah siap kerja. Memang mengganggu tapi keadaan seperti ini,” ungkapnya. (*R14)

Leave a Reply